JAKARTA – Tangis pilu pecah di tengah aksi Presidium Mitra BGN Indonesia di Jakarta, Selasa (6/10/2026). Seorang mitra perempuan asal Tanah Toraja, Sulawesi Selatan, bernama Lenny, tak kuasa menahan air mata menceritakan penderitaan keluarganya setelah berinvestasi untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dengan suara terbata, Lenny mengaku dirinya bukan orang kaya. Ia hanya hidup pas-pasan dan nekat mengambil uang bank karena diiming-imingi Satgas dengan janji keuntungan sesuai Juknis awal.
“Jujur, di antara semua investor ini yang paling miskin itu saya. Saya cuma investor yang mungkin hanya mengandalkan uang. Awalnya saya tidak mau. Saya tidak ada niat mau kelola BGN. Tapi saya dibujuk-bujuk Satgas,” kata Lenny sambil menangis.
Karena dikejar waktu pembangunan 35 hari dan tergiur Juknis awal, ia membangun 2 dapur SPPG hingga 100% siap operasional. Total kerugian yang ia tanggung mencapai Rp 3 miliar, mulai dibangun sejak Desember 2025.
Uang itu bukan uang dingin. Itu uang bank dan tabungan puluhan tahun yang ia kumpulkan.
“Duit itu uang bank, puluhan tahun aku kumpulin. Sekarang dua dapur 100% sudah siap operasional tapi belum di-appraisal, belum ada jalan, belum ada tanggapan pemerintah,” ujarnya.
Penderitaan Lenny tidak berhenti di situ. Karena operasional tak kunjung berjalan, ia menunggak cicilan bank setiap bulan, ditagih tukang bangunan yang membangun dapurnya, dan kini rumah pribadinya terancam disita.
“Saat ini rumah saya terancam karena setiap bulan menunggak,” isaknya.
Yang paling menyakitkan, suaminya yang sebelumnya hanya sakit akibat kecelakaan, kini kondisinya semakin parah karena stres.
“Gara-gara BGN ini suami saya sudah sakit tambah sakit lagi. Sekarang kena darah tinggi, kena stroke, kena herpes, penyakitnya sudah komplikasi dalam tubuhnya karena pikiran. Selama 5 bulan ini ditagih-tagih tukang, dia sudah jatuh sakit dan kami sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi,” ungkap Lenny.
Lenny bahkan mengaku malu untuk bercerita, namun kondisi sudah sangat mendesak. BPJS keluarganya sudah menunggak, sehingga ia tidak bisa membawa suaminya berobat ke rumah sakit.
“Jujur, aku sudah tidak tahan lagi. Sebenarnya aku malu mau cerita, BPJS kita sudah menunggak. Gimana coba aku mau kasih masuk rumah sakit suami saya? Duit dari mana?” katanya.
Lenny yang kini bertahan di Jakarta mengaku lebih nyaman di Jakarta karena tidak ditagih.
“Kayaknya di Jakarta ini aku lebih nyaman, aku tidak ditagih-tagih sama siapapun,” ujarnya lirih.
Ia kini tak lagi mengharapkan keuntungan. Satu-satunya harapannya adalah uang modalnya bisa dikembalikan agar bisa melunasi utang dan menyelamatkan suaminya.
“Aku tidak mengharapkan lagi keuntungan. Aku mau uang saya dibalikin, biar utang-utang saya beres. Itu aja. Karena suami saya lagi sakit parah, aku tidak tahu lagi mau ambil uang dari mana,” pungkas Lenny.
Arny
