• Sat. Apr 25th, 2026

Aku sengaja menagih hutan9 ipar-iparku di grup keluarga besar setelah hanya aku yang tak diajak bukber di rumah mertua.

Byadmin

Dec 13, 2025

Katanya aku ini bukan keluarga, jadi tidak boleh hadir. Baiklah kalau begitu, akan kutunjukkan siapa aku ini yang sebenarnya….

Part 8

“Mas, mesin cucinya rusak. Beli yang baru, ya?” kataku pada Mas Pandu sehabis sahur.

Sudah tiga hari ini aku mencuci manual karena mesin cucinya rvsak. Itu juga sudah beberapa kali aku servis, tak hanya baru rusak kali ini.

Rasanya aku sudah bosan kalau harus servis berulang kali. Jadi aku minta Mas Pandu belikan yang baru.

Kenapa harus minta? Ya karena bagiku itu masih kewajiban Mas Pandu untuk mencukupi kebutuhanku. Sebenarnya mudah saja bagiku untuk beli sendiri, tapi aku memang sengaja mencoba minta dibelikan olehnya. Bagaimana reaksinya.

“Du!t dari mana? Kamu beli sendiri aja, kan orderan bulan ini aku lihat banyak banget.”

Aku memutar bola mata malas. “Kan kamu baru dapat THR, Mas. Nggak ada lima juta, yang biasa aja mesin cucinya,” cecarku mengejar.

Mas Pandu mendesah pelan, ia seperti jengah dengan rengekanku. “Aku mau belikan Ibu kulkas habis THR turun, Dek. Dipending aja mesin cucinya, kapan-kapan. Lagian nyuci manual kan juga masih bisa, malah hitung-hitung sambil olahraga,” tuturnya santai, lalu berdiri dan merebahkan tubuhnya di sofa.

“Ya kalau gitu ta9ihin uan9ku ke Mbak Dian sama Fifi, biar bisa buat beli mesin cuci,” jawabku ketvs.

“Ckck. Kamu itu mata dvitan banget sih, Dek. Perasaan dulu kamu nggak gini.”

“Sama. Dulu kamu juga nggak gini, Mas.”

Aku meletakkan piring di wastafel, tapi langsung kutinggal. Rasanya malas sekali beraktivitas, apalagi melihat reaksi Mas Pandu yang seperti itu.

..

Kulihat Mas Pandu masih tengkurap di sofa ruang keluarga seperti pagi tadi waktu kami berdebat. Kulirik sekilas jam di dinding, padahal sudah jam setengah tujuh dan seharusnya dia sudah bersiap ke kantor.

Aku berdehem kecil sembari menyapu lantai. Semoga saja dia peka, karena untuk menegurnya rasanya berat sekali.

Dan benar saja, dia meng9eliat. Dengan santainya aku melanjutkan aktifitasku, menyapu lantai dan setelahnya aku akan mengerjakan orderan onlineku.

Ini bulan Ramadhan. Orderan gamis dan jilbab sangat penuh. Untung aku memiliki stok yang banyak karena disaat seperti ini penjahit-penjahitku pasti juga akan kuwalahan.

Kalau soal menghandle akun dan mengemas, aku masih kerjakan sendiri. Aku rasa belum ada yang sedetail diriku sendiri. Jadi aku masih melakukannya sendiri. Semoga saja usahaku ini semakin maju sehingga aku bisa memiliki beberapa karyawan yang bisa membantuku selain menjahit.

“Astaga! Setengah tujuh!” Mas Pandu gelagapan. Ia terlonjak dan langsung duduk.

“Dek, kenapa kamu nggak bangunin, sih?” omelnya.

Mas Pandu berdiri, tapi masih sempoyongan. Sepertinya nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.

“Habis kamu pules banget, sampe lupa sama kewajiban,” jawabku singkat tanpa berusaha menatapnya.

“Kamu seneng ya kalau aku telat? Giliran 9ajian aja kalau telat ngomel-ngomel, tapi kalau aku telat berangkat kerja nggak mau ngingetin.”

“Ck, padahal 9aji juga nggak cuma buat aku. Tapi aku terus yang di tuntut,” jawabku lagi, dan sepertinya sukses menyulut emosinya lagi.

“Bisa nggak sih kamu nggak ngajak aku ribut terus, Dek? Aku rasa dari kemarin kamu ngajakin aku ribut terus!” Mas Pandu berteriak dari dalam kamar mandi, dan aku pun juga sudah malas meladeninya.

..

Sore harinya, aku dan Mas Pandu sudah bersiap mau berangkat ke acara bukber. Ya, seperti yang ia katakan. Kami akan bukber dengan keluarga besarnya yang itu artinya kami akan bertemu dengan Tante Risma dan Tante Nuri.

Suasana parkiran sudah ramai. Keluarga besar Mas Pandu memang banyak, itulah sebabnya bisa seramai ini. Satu keluarga saja sekarang ada yang sudah sampai menjadi sepuluh orang lebih beserta anak cucunya.

“Eh, Dinda,” sapa Tante Risma ketika hendak masuk ke dalam restoran.

Belum sempat aku menyapa Tante Risma tanganku sudah ditarik oleh ibu mertuaku. Sepertinya ada rasa tak suka ketika aku hendak mendekati Tante Risma.

“Ayo cepat ke dalam saja, nanti keburu maghrib kita belum dapat tempat,” ujar Ibu.

Aku dan Mas Pandu memang berangkat bersama Ibu dan Nilam. Sedangkan Mbak Dian dan suami serta Fifi dan suaminya berangkat sendiri.

“Lhoo, lhoo, kok main tarik aja to, Mbak. S4_dis banget sama mantunya,” ujar Tante Risma.

“Maaf, aku tidak s4_dis, tapi cuma keburu adzan saja,” jawab Ibu singkat dan terlihat cuek.

“Kasian banget loh itu mantunya. Kaya tertekan banget. Kasian kamu Dinda, kaya disia-siain banget di keluargamu itu.”

Asta9a. Tante Risma ini berarti memang orangnya cerewet dan tak tahu tempat, ya? Meski sebagian besar apa yang dia ucapkan ada benarnya.

“Mbak, jangan asal bicara, ya. Ini kita mau saling silaturahmi, bukan mau berdebat,” cecar Ibu lagi.

Aku hanya tersenyum pada Tante Risma, lalu berjalan beriringan dengan ibu mertuaku masuk ke dalam dengan Mas Pandu dan Nilam. Walau yang bagaimanapun di depan orang-orang aku harus bersikap baik meski perasaanku sudah muak sekali.

Di dalam ternyata sudah ada Mbak Dian dan Fifi juga. Mereka dengan asik berfoto di depan dekorasi bunga yang dibuat oleh restoran ini.

Tanpa memperdulikan mereka aku lantas mencari tempat duduk. Rasanya memang malas sekali berbasa-basi dengan anggota keluarga disini. Aku hanya sesekali menyapa tanpa berniat mengobrol lebih jauh.

Hingga akhirnya adzan berkumandang. Kami semua lantas berbuka dengan sangat hangat. Dibalik sisi negatifnya, ada kehangatan yang indah disini. Kulihat mereka juga sangat baik, hanya satu dua orang saja yang bersikap kurang menyenangkan, termasuk iparku sendiri, Mbak Dian dan Fifi.

“Eh, Dian, tas kamu bagus banget.” Di belakangku kudengar seseorang tengah memuji tas Mbak Dian.

“Iya lah, ini kan mahal dan bermerk. Ini juga, bagus, kan?”

“Iya, kamu dimana sih dapat barang-barang bagus kaya gini?”

Aku masih terdiam, belum ingin membalikkan badan.

“Aku sama Fifi sering jastip sama orang, beli barang-barang mewah kaya gini di luar negeri. Ya meskipun ongkirnya mahal, tapi sepadan lah. Penampilan juga jadi kelihatan lebih elegan. Iya kan, Fi?” Masih kudengarkan ocehan Mbak Dian menyombon9kan diri di belakang sana.

Mereka semua tertawa-tawa, obrolan mereka semakin panas. Mereka saling pamer dan menyombongkan diri.

“Tapi jangan kaya di itu tuh, ya. Dia mana bisa pakai barang mewah-mewah kaya gini, lagipula juga nggak bakal pantes.”

Meski tak menyebut nama, tapi jujur saja aku tersent!l.

“Siapa memangnya?” tanya salah seorang saudara.

“Itu. Si itu… Istrinya kakakku,” jawab Fifi, membuatku spontan membalikkan badan dan meliriknya taj4m.

“Kenapa? Ha? Kenapa? Kamu ngerasa?” tutur Mbak Dian seperti tak punya d0sa.

Mbak Dian dan Fifi terkekeh, bahkan salah seorang saudaranya yang lain juga ikut menertawakan. Memang, keluarga t0xic.

“Mungkin dia ngerasa sendiri kalau penampilannya paling enggak banget disini, Mbak. Iiuuhh, acara kaya gini kaya mau ke warteg. Nggak berkelas banget,” sambung Fifi, membuat amarahku semakin tersulut.

Aku hanya menarik nafas panjang, lalu berdiri dan mendekat ke arah mereka. Sepertiny meladeni mulut mereka memang harus di balas dengan pedas.

“Jangan salah ya kakak ipar dan adik ipar tukang hutan9 tapi nggak mau bayar dan gaya selangit. Aku bisa saja beli semua itu, bahkan sampai puluhan biji. Tapi aku tidak mau sombon9 seperti kalian. Lihat, apa kalian memiliki ini?” ujarku dengan menyodorkan isi dari dompetku yang berisi satu kartu yang sangat unik, yang hanya dimiliki oleh seseorang yang menjadi nasabah prioritas di sebuah bank.

Mereka terkejut, tapi tidak dengan Mbak Dian dan Fifi yang justru mencibir. “Alah itu cuma palsu, mana mungkin.”

“Perhatian, perhatian. Tolong saya minta waktunya sebentar. Bagi siapa saja yang mengenal dua orang ini, tolong di beri penjelasan ya kalau semisal punya hutan9 itu segera di bayar, jangan seenaknya sendiri. Apalagi sampai gaya pakai barang mewah tapi hutan9 menumpuk,” tandasku dengan lantan9 membuat semua yang ada di ruangan ini menoleh ke arah kami.

Aku hanya tersenyum puas, lalu melirik Mbak Dian dan Fifi yang terlihat m4rah. Beruntung, kemarin ayah menitipkan kartu ini padaku. Jadi aku bisa menggunakannya untuk membun9kam mulut mereka. Orangtuaku sangat baik, sampai mereka menyerahkan kartu ini padaku. Dan besok, mereka akan mengajakku untuk memindahkan semua isi saldo itu atas namaku. Perkebunan sawit kami luas, tak heran jika orangtuaku adalah nasabah prioritas di sebuah b4nk.

“Dindaaaa. Aw4s kamu! Aku akan hancvrkan kamu!” bisik Mbak Dian pelan dari kursinya dengan wajah m4rah, sedang beberapa orang mengoloknya dengan riuh.

Aku hanya menjulurkan lidah, lalu melenggang meninggalkan mereka. Kita lihat saja apa yang akan ia lakukan besok.

#

Baca di KBM App 💍💍
Judul : Menagih Hutang Di Acara Bukber
Penulis : Jingga_Amelia

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *