JAKARTA — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat langkah strategis menjadikan Jakarta sebagai destinasi ramah wisatawan Muslim berkelas dunia melalui penyelenggaraan Jakarta Muslim Friendly Forum (JMFF) 2026.
Forum yang digelar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi DKI Jakarta bersama DPD Association of Indonesia Tours and Travel Agencies (AITTA) Jakarta tersebut berlangsung di Hotel Mövenpick Jakarta, Senin (31/8/2026).
JMFF 2026 mempertemukan unsur pemerintah, pelaku industri pariwisata, akademisi, asosiasi, serta para duta besar dan perwakilan negara sahabat. Perwakilan dari sekitar 20 negara hadir untuk berbagi pengalaman mengenai perkembangan konsep wisata ramah Muslim di masing-masing negara sekaligus memberikan perspektif terhadap kesiapan Jakarta.
Forum ini menjadi ruang strategis untuk membahas bagaimana Jakarta dapat meningkatkan kualitas layanan pariwisata agar semakin inklusif dan mampu memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim dari berbagai negara.
Forum dibuka oleh Iffan, M.Si., Kepala Bidang Industri Pariwisata Disparekraf DKI Jakarta, yang hadir mewakili Kepala Dinas.
Sejumlah tokoh pemerintah dan industri pariwisata menjadi pembicara dalam forum tersebut.
Di antaranya Dr. Masruroh, S.Sos., MAB., Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata RI; Bima Agung, ST., Kepala Bidang Data, Informasi dan Pengembangan Destinasi Disparekraf DKI Jakarta; Ir. H. Riyanto Sofyan, MBA, Ketua Umum PPHI; serta Farah Fauziah Arditami dari CrescentRating & HalalTrip.
Dari sektor industri, hadir Ir. H. Artha Hanif, Ketua Umum AITTA; Dr. Arief Faizal Rachman, M.T., Kaprodi S1 Pariwisata Institut Pariwisata Trisakti; Ubay Ihsandi, Vice President Umrah, Hajj & Charter PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk; serta Duhita Anggraeni, Marketing Communication Group Head TMII.
Ketua AITTA DPD Jakarta, Djohari Somad, mengatakan konsep wisata ramah Muslim tidak boleh dipersempit hanya pada penyediaan makanan halal dan tempat ibadah.
“Wisata ramah Muslim bukan hanya soal makanan halal dan tempat ibadah. Yang harus dibangun adalah pengalaman wisatawan secara utuh, mulai dari informasi, transportasi, akomodasi, kuliner, atraksi hingga pelayanan di destinasi,” kata Djohari.
Menurut dia, Jakarta memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu destinasi wisata ramah Muslim terkemuka di dunia. Namun, potensi tersebut harus diikuti dengan kesiapan ekosistem pariwisata yang terintegrasi.
Karena itu, JMFF 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi menghasilkan kajian dan rekomendasi konkret mengenai posisi Jakarta saat ini.
“JMFF 2026 diharapkan menghasilkan kajian dan rekomendasi konkret untuk melihat posisi Jakarta saat ini, kekurangan yang masih perlu dibenahi, serta langkah yang diperlukan agar Jakarta semakin kompetitif di pasar wisata Muslim global,” ujarnya.
Libatkan Perwakilan Negara Sahabat
Penyelenggaraan JMFF 2026 juga mendapat perhatian dari kalangan diplomatik.
Sejumlah perwakilan kedutaan besar negara sahabat hadir dalam forum tersebut.
Di antaranya Ambassador of the Syrian Arab Republic H.E. Mr. Abdulmonem Annan; Ambassador of the Republic of Yemen H.E. Mr. Salem Ahmed Balfakeeh; Charge d’Affaires dari Kedutaan Besar Oman; 1st Secretary Embassy of the Republic of Iran Mr. Ali Jameh Bozorg; 1st Secretary of Algeria Ms. Harrouche Selma; serta Secretary of Foreign Affairs Embassy of the Republic of Tunisia Ms. Soulaima Sassi.
Hadir pula Ms. Puja Sharma sebagai perwakilan Kedutaan Besar India dan Mr. Boiki Motlouivg, Counsellor Political Kedutaan Besar Afrika Selatan.
Kehadiran para perwakilan diplomatik tersebut memperluas perspektif dalam pengembangan Jakarta sebagai destinasi yang tidak hanya nyaman bagi wisatawan domestik, tetapi juga memiliki standar pelayanan yang dapat diterima wisatawan Muslim dari berbagai negara.
Bagian dari Persiapan Menuju 500 Tahun Jakarta, JMFF 2026 merupakan kelanjutan dari forum serupa yang pertama kali diselenggarakan pada 2025.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju momentum 500 Tahun Jakarta.
Melalui forum tersebut, pemerintah dan pemangku kepentingan pariwisata didorong untuk melihat pengembangan wisata ramah Muslim sebagai bagian dari strategi peningkatan daya saing destinasi Jakarta.
Tidak hanya menyasar wisatawan Muslim dari negara-negara mayoritas Muslim, konsep tersebut juga diarahkan untuk memperkuat citra Jakarta sebagai kota global yang mampu memberikan pelayanan wisata yang inklusif dan berkualitas.
Rangkaian JMFF 2026 kemudian dilanjutkan pada Selasa (1/9/2026) melalui kegiatan educational tour ke sejumlah destinasi wisata di Jakarta.
Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk melihat secara langsung kesiapan fasilitas, pelayanan, aksesibilitas, serta berbagai aspek pendukung wisata ramah Muslim di lapangan.
Hasil pengamatan dari educational tour diharapkan dapat menjadi bagian dari masukan dalam penyusunan rekomendasi pengembangan ekosistem wisata ramah Muslim di Jakarta.
Dengan pendekatan yang melibatkan pemerintah, industri, akademisi, asosiasi dan komunitas internasional, JMFF 2026 diharapkan menjadi salah satu pijakan untuk memperkuat posisi Jakarta di tengah persaingan destinasi wisata Muslim global.
arny
